Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts

Thursday, August 6, 2009

Sajak Seonggok Jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
Di sini aku merasa asing dan sepi !

TIM, 12 Juli 1975
Potret Pembangunan dalam Puisi

Mengenang sastrawan dan budayawan W.S Rendra (1935-2009)

Monday, May 18, 2009

Last DAY of my BANDUNG day

(picture : casey o' connel)

what a melancholic rainy evening for my last day in Bandung.

after nine years stayed in this town,this should be my second hometown,
after years, the memory of love and life be memorized.
everything here has changed me, for good, for better, and for the best.
and now I can't forget the smell of foggy morning, and lightened night.

my first day in this city made me never want to leave.
and my last day will remind.

love is right words to describe this place.
with no tears I left behind.
with love I pray for the future.

with love I leave Bandung.

I love you...
for all people I love,
for friendship I ever had,
for big spirit I always get,

with love,
winD

Tuesday, December 23, 2008

h u j a n

sore ini hujan pertama
titik - titik air menyentuh tanah
melembutkan retakan - retakan di atasnya

hmmm....
wangi tanah ini
menjadi kerinduan di alamku
biarkanlah dingin ini membelegguku
menikmati tiap tetes turunmu
menerpa sendi - sendi kakuku
lembut merasuk sukmaku
menentramkan jiwa kerasku
kemarahan dihatiku
rendahkan emosiku
menunggu seluruh kesabaranku

menanti hujan tiap langit jadi kelabu
tiap asa menanti jadi

sore ini hujan pertama
penantian di tengah kemarau usai
tak ingin kupikirkan langit kelabu esok hari
kunikmati saja titik - titik hujan sore ini

ruang sidang GM, 15.45,011002

Wednesday, November 14, 2007

Life with Passion

Karena dengan gairah.....hidup pasti lebih bersemangat....ada tenaganya....
dan gwe percaya kalo hidup memang butuh VISI...TUJUAN...CITA-CITA, sehingga bisa menata hidup, dan memilih cara agar CITA-CITA kita tercapai...dan pastinya lebih bersemangat.

Puisi ini tuh menggetarkan gwe, saat gwe merasa jalan di depan gwe tertutup kabut tebal dan benar-benar ga tahu mau kemana. Dan gwe saat itu merasakan kehilangan gairah untuk memperjuangkan tujuan hidup gwe. Gwe beruntung....gwe sadar benar...bahwa gwe g pernah benar-benar sendiri....ada kekuatan yang lebih besar sedang menyemangati dan menunggu gwe untuk memulai hidup dengan semangat baru...agar mudah bagi-Nya memberikan petujuk,rahmat dan kekuatan.



Ithaca

When you set out on your journey to Ithaca,
pray that the road is long,
full of adventure, full of knowledge.
The Lestryg, onians and the Cyclops,
the angry Poseidon - do not fear them :
You will never find such as these on your path
if your thoughts remain lofty, I a fine emotion touches your spirit and your body.
The Lestrygonians and the Cyclops,
the fierce Poseidon you will never encounter,
if you don’t carry them within soul,
if your hearts does not set them up before you.

Pray that the road is long.
That the summer mornings are many, when,
with such pleasure, with such joy
you will enter post seen for the first time;
stop at Phoenician markets,
and purchase fine merchandise,
mother – of – pearl and coral, amber and ebony,
and sensual perfumes of all kinds,
as many sensual perfumes as you can;
visit many Egyptian cities,
to learn and learn from scholars.
Always keep Ithaca in your mind.
To arrive there is your ultimate goal.
But do not hurry the voyage at all.
It is better to let it last for many years;
and to anchor at the island when you are old,
rich with all you have gained on the way,
not expecting that Ithaca will offer you riches.

Ithaca has given you the beautiful voyage.
Without her you would never have set out on the road.
She has nothing more to give you.
And if you find her poor, Ithaca has not deceived you.
Wise as you become, with so much experience,
you must already have understood what Ithaca mean.




Constatine Cavafy (1863-1933)
Translated by Rae Dalven
Take from
The Zahirby Paulo Coelho